Android, Inc. didirikan di Palo Alto, California,
pada bulan Oktober 2003 oleh Andy Rubin (pendiri Danger),[29] Rich Miner (pendiri
Wildfire Communications, Inc.),[30] Nick Sears[31] (mantan VP T-Mobile), dan Chris White (kepala desain dan
pengembangan antarmuka WebTV)[10] untuk mengembangkan "perangkat seluler pintar yang
lebih sadar akan lokasi dan preferensi penggunanya".[10] Tujuan awal pengembangan Android adalah untuk
mengembangkan sebuah sistem operasi canggih yang diperuntukkan bagi kamera digital. Namun, disadari bahwa pasar
untuk perangkat tersebut tidak cukup besar, dan pengembangan Android lalu
dialihkan bagi pasar telepon pintar untuk menyaingi Symbian dan Windows Mobile (iPhone Apple belum dirilis pada saat
itu).[32] Meskipun para pengembang Android adalah pakar-pakar
teknologi yang berpengalaman, Android Inc. dioperasikan secara diam-diam, hanya
diungkapkan bahwa para pengembang sedang menciptakan sebuah perangkat lunak
yang diperuntukkan bagi telepon seluler.[10] Masih pada tahun yang sama, Rubin kehabisan uang. Steve Perlman, seorang teman dekat Rubin
meminjamkan $10.000 tunai dan menolak tawaran saham di perusahaan.[33]
Google mengakuisisi Android Inc. pada
tanggal 17 Agustus 2005, menjadikannya sebagai anak perusahaan yang sepenuhnya
dimiliki oleh Google. Pendiri Android Inc. seperti Rubin, Miner dan White tetap
bekerja di perusahaan setelah diakuisisi oleh Google.[10] Setelah itu, tidak banyak yang diketahui tentang
perkembangan Android Inc., tetapi banyak anggapan yang menyatakan bahwa Google
berencana untuk memasuki pasar telepon seluler dengan tindakannya ini.[10] Di Google, tim yang dipimpin oleh Rubin mulai
mengembangkan platform perangkat seluler dengan menggunakan kernel Linux. Google memasarkan platform
tersebut kepada produsen perangkat seluler dan operator nirkabel,
dengan janji bahwa mereka menyediakan sistem yang fleksibel dan bisa diperbarui.
Google telah memilih beberapa mitra perusahaan perangkat lunak dan perangkat
keras, serta mengisyaratkan kepada operator seluler bahwa kerja sama ini
terbuka bagi siapapun yang ingin berpartisipasi.[34][35][36]
HTC Dream, ponsel Android pertama.
Spekulasi tentang niat Google untuk memasuki pasar komunikasi
seluler terus berkembang hingga bulan Desember 2006.[37] BBC dan Wall Street Journal melaporkan
bahwa Google sedang bekerja keras untuk menyertakan aplikasi dan mesin pencarinya di perangkat seluler.
Berbagai media cetak dan media daring mengabarkan bahwa Google sedang
mengembangkan perangkat seluler dengan merek Google. Beberapa di antaranya
berspekulasi bahwa Google telah menentukan spesifikasi teknisnya, termasuk
produsen telepon seluler dan operator jaringan. Pada bulan Desember 2007, InformationWeek melaporkan bahwa
Google telah mengajukan beberapa aplikasi paten di bidang telepon seluler.[38][39]
Pada tanggal 5 November 2007, Open Handset Alliance (OHA)
didirikan. OHA adalah konsorsium dari
perusahaan-perusahaan teknologi seperti Google, produsen perangkat seluler
seperti HTC, Sony dan Samsung, operator nirkabel seperti Sprint Nextel dan T-Mobile, serta produsen chipset seperti Qualcomm dan Texas Instruments. OHA sendiri bertujuan untuk
mengembangkan standar terbuka bagi
perangkat seluler.[11] Saat itu, Android diresmikan sebagai produk pertamanya;
sebuah platform perangkat
seluler yang menggunakan kernel Linux versi 2.6.[11] Telepon seluler komersial pertama yang menggunakan sistem
operasi Android adalah HTC Dream, yang
diluncurkan pada 22 Oktober 2008.[40]
Pada tahun 2010, Google merilis seri Nexus; perangkat telepon pintar dan tablet
dengan sistem operasi Android yang diproduksi oleh mitra produsen telepon
seluler seperti HTC, LG, dan Samsung. HTC bekerja sama dengan Google
dalam merilis produk telepon pintar Nexus pertama, yakni Nexus One.[41] Seri ini telah diperbarui dengan perangkat yang lebih
baru, misalnya telepon pintar Nexus 4 dan tablet Nexus 10 yang diproduksi oleh LG dan
Samsung.[42] Pada 15 Oktober 2014, Google mengumumkan Nexus 6 dan Nexus
9 yang diproduksi oleh Motorola dan HTC.[43] Pada 13 Maret 2013, Larry Page mengumumkan dalam postingan
blognya bahwa Andy Rubin telah pindah dari divisi Android untuk mengerjakan
proyek-proyek baru di Google.[44] Ia digantikan oleh Sundar Pichai, yang sebelumnya menjabat
sebagai kepala divisi Google Chrome, yang mengembangkan Chrome OS.[42]
Sejak tahun 2008, Android secara bertahap telah melakukan sejumlah pembaruan untuk
meningkatkan kinerja sistem operasi, menambahkan fitur baru, dan
memperbaiki bug yang terdapat pada versi sebelumnya.
Setiap versi utama yang dirilis dinamakan secara alfabetis berdasarkan
nama-nama makanan pencuci mulut atau camilan bergula; misalnya, versi 1.5
bernama Cupcake, yang kemudian diikuti oleh versi 1.6 Donut.
Versi terbaru adalah 9.0 Pie, yang dirilis pada 7 maret 2018.[45]
Fitur
Lihat pula: Daftar fitur pada
Android
Antarmuka
Layar notifikasi pada ponsel Android yang
diakses dengan menggeser dari bagian atas layar.
Antarmuka pengguna pada Android didasarkan pada manipulasi
langsung,[46] menggunakan masukan sentuh yang serupa dengan tindakan di
dunia nyata, misalnya menggesek (swiping), mengetuk (tapping),
dan mencubit (pinching), untuk memanipulasi objek di layar.[46] Masukan pengguna direspon dengan cepat dan juga tersedia
antarmuka sentuh layaknya permukaan air, sering kali menggunakan kemampuan
getaran perangkat untuk memberikan umpan balik haptik kepada
pengguna. Perangkat keras internal
seperti akselerometer, giroskop, dan sensor proksimitas digunakan
oleh beberapa aplikasi untuk merespon tindakan pengguna, misalnya untuk
menyesuaikan posisi layar dari potret ke lanskap, tergantung pada bagaimana
perangkat diposisikan, atau memungkinkan pengguna untuk mengarahkan kendaraan
saat bermain balapan dengan memutar perangkat sebagai simulasi kendali setir.[47]
Ketika dihidupkan, perangkat Android akan memuat pada layar
depan (homescreen), yakni navigasi utama dan pusat informasi pada
perangkat, serupa dengan desktop pada komputer pribadi. Layar depan Android biasanya
terdiri dari ikon aplikasi dan widget;
ikon aplikasi berfungsi untuk menjalankan aplikasi terkait, sedangkan widget
menampilkan konten secara langsung dan terbarui otomatis, misalnya prakiraan
cuaca, kotak masuk surel pengguna, atau
menampilkan tiker berita secara langsung dari layar depan.[48] Layar depan bisa terdiri dari beberapa halaman, pengguna
dapat menggeser bolak balik antara satu halaman ke halaman lainnya, yang
memungkinkan pengguna Android untuk mengatur tampilan perangkat sesuai dengan
selera mereka. Beberapa aplikasi pihak ketiga yang tersedia di Google Play dan di toko aplikasi lainnya
secara ekstensif mampu mengatur kembali tema layar depan Android, dan bahkan
bisa meniru tampilan sistem operasi lain, misalnya Windows Phone.[49] Kebanyakan produsen telepon seluler dan operator nirkabel
menyesuaikan tampilan perangkat Android buatan mereka untuk membedakannya dari
pesaing mereka.[50]
Di bagian atas layar terdapat status bar, yang menampilkan
informasi tentang perangkat dan konektivitasnya. Status bar ini bisa
"ditarik" ke bawah untuk membuka layar notifikasi yang menampilkan
informasi penting atau pembaruan aplikasi, misalnya surel diterima atau SMS
masuk, dengan cara tidak mengganggu kegiatan pengguna pada perangkat.[51] Pada versi awal Android, layar notifikasi ini bisa
digunakan untuk membuka aplikasi yang relevan. Namun, setelah diperbarui,
fungsi ini semakin disempurnakan, misalnya kemampuan untuk memanggil kembali
nomor telepon dari notifikasi panggilan tak terjawab tanpa harus membuka
aplikasi utama.[52] Notifikasi ini akan tetap ada sampai pengguna melihatnya,
atau dihapus dan di nonaktifkan oleh pengguna.
Aplikasi
Play Store di Nexus 4.
Lihat pula: Pengembangan
perangkat lunak Android dan Google Play
Android memungkinkan penggunanya untuk memasang aplikasi pihak
ketiga, baik yang diperoleh dari toko aplikasi seperti Google Play, Amazon Appstore, ataupun dengan mengunduh dan
memasang berkas APK dari
situs pihak ketiga.[53] Di Google Play, pengguna bisa menjelajah, mengunduh, dan
memperbarui aplikasi yang diterbitkan oleh Google dan pengembang pihak ketiga,
sesuai dengan persyaratan kompatibilitas Google.[54] Google Play akan menyaring daftar aplikasi yang tersedia
berdasarkan kompatibilitasnya dengan perangkat pengguna, dan pengembang dapat
membatasi aplikasi ciptaan mereka bagi operator atau negara tertentu untuk
alasan bisnis.[55] Pembelian aplikasi yang tidak sesuai dengan keinginan
pengguna dapat dikembalikan dalam waktu 15 menit setelah pengunduhan.[56] Beberapa operator seluler juga menawarkan tagihan langsung
untuk pembelian aplikasi di Google Play dengan cara menambahkan harga pembelian
aplikasi pada tagihan bulanan pengguna.[57] Pada bulan September 2012, ada lebih dari 675.000 aplikasi
yang tersedia untuk Android, dan perkiraan jumlah aplikasi yang diunduh dari
Play Store adalah 25 miliar.[58]
Aplikasi Android dikembangkan dalam bahasa pemrograman Java dengan
menggunakan kit pengembangan
perangkat lunak Android (SDK). SDK ini terdiri dari seperangkat
perkakas pengembangan,[59] termasuk debugger, perpustakaan
perangkat lunak, emulator handset yang berbasis QEMU,
dokumentasi, kode sampel, dan tutorial. Didukung secara resmi oleh lingkungan
pengembangan terpadu (IDE) Eclipse,
yang menggunakan plugin Android Development Tools (ADT). Perkakas pengembangan
lain yang tersedia di antaranya adalah Native Development
Kit untuk aplikasi atau ekstensi dalam C atau C++, Google App Inventor,
lingkungan visual untuk pemrogram pemula, dan berbagai kerangka kerja aplikasi
web seluler lintas platform.
Dalam rangka menghadapi penyensoran Internet di Republik Rakyat Tiongkok,
perangkat Android yang dijual di RRT umumnya disesuaikan dengan layanan yang
disetujui oleh negara.[60]
Pengelolaan memori
Karena perangkat Android umumnya bertenaga baterai, Android dirancang untuk mengelola
memori (RAM) guna menjaga konsumsi daya minimal,
berbeda dengan sistem operasi desktop yang bisa terhubung pada sumber
daya listrik tak terbatas. Ketika sebuah
aplikasi Android tidak lagi digunakan, sistem secara otomatis akan
menangguhkannya (suspend) dalam memori – secara teknis aplikasi
tersebut masih "terbuka", jika ditangguhkan maka aplikasi tidak akan
mengonsumsi sumber daya (misalnya daya baterai atau daya pemrosesan), dan akan
"diam" di latar belakang hingga aplikasi tersebut digunakan kembali.
Cara ini memiliki manfaat ganda, tidak hanya meningkatkan respon perangkat
Android karena aplikasi tidak perlu ditutup dan dibuka kembali dari awal setiap
saat, tetapi juga memastikan bahwa aplikasi yang berjalan di latar belakang
tidak menghabiskan daya secara sia-sia.[61]
Android mengelola aplikasi yang tersimpan di memori secara
otomatis: ketika memori lemah, sistem akan menonaktifkan aplikasi dan proses
yang tidak aktif untuk sementara waktu, aplikasi akan dinonaktifkan dalam
urutan terbalik, dimulai dari yang terakhir digunakan. Proses ini tidak
terlihat oleh pengguna, jadi pengguna tidak perlu mengelola memori atau
menonaktifkan aplikasi secara manual.[62] Namun, kebingungan pengguna atas pengelolaan memori pada
Android telah menyebabkan munculnya beberapa aplikasi task killer pihak
ketiga yang populer di Google Play.[63]
Persyaratan perangkat keras
Hingga November 2013, versi terbaru Android membutuhkan
setidaknya 512 MB RAM,[64] prosesor ARMv7 32-bit, arsitektur MIPS, atau x86,[65] serta unit pemroses grafis (GPU)
kompatibel OpenGL ES 2.0.[66]
Platform perangkat keras utama pada Android
adalah arsitektur ARM.
Ada juga dukungan untuk x86 dari proyek Android-x86,[65] dan Google TV menggunakan
versi x86 khusus Android. Pada tahun 2013, Freescale mengumumkan melibatkan Android
dalam prosesor i.MX buatannya,
yakni seri i.MX5X dan i.MX6X.[67] Pada 2012, prosesor Intel juga
mulai muncul pada platform utama Android, misalnya pada telepon seluler.[68]
Beberapa komponen perangkat keras tidak diperlukan, tetapi sudah
menjadi standar di perangkat tertentu. Beberapa fitur awalnya dibutuhkan
sebagai persyaratan, kemudian ditiadakan. Setelah Android menjadi OS telepon
pintar, beberapa perangkat keras, seperti mikrofon, lambat laun berubah menjadi
perangkat opsional. Selain itu, kamera ditetapkan sebagai perangkat wajib
bagi ponsel-ponsel Android.[69] Perangkat Android menggabungkan berbagai komponen
perangkat keras opsional, termasuk kamera video, GPS,
sensor orientasi perangkat keras, kontrol permainan, akselerometer, giroskop,
barometer, magnetometer, sensor proksimitas, sensor tekanan, termometer,
dan layar sentuh.
Android mendukung OpenGL ES 1.1, 2.0, dan 3.0. Beberapa aplikasi
secara eksplisit mengharuskan versi tertentu dari OpenGL ES, sehingga perangkat
keras GPU yang cocok diperlukan bagi perangkat Android untuk menjalankan
aplikasi tertentu.[66]
Pengembangan
Android dikembangkan secara pribadi oleh Google sampai perubahan
terbaru dan pembaruan siap untuk dirilis, dan informasi mengenai kode sumber
juga mulai diungkapkan kepada publik.[70] Kode sumber ini hanya akan berjalan tanpa modifikasi pada
perangkat tertentu, biasanya pada seri Nexus.[71] Ada binari tersendiri yang
disediakan oleh produsen agar Android bisa beroperasi.[72]
Logo Android yang berwarna hijau awalnya dirancang untuk Google
pada tahun 2007 oleh desainer grafis Irina Blok.[73][74][75] Tim desain ditugaskan dengan sebuah proyek untuk membuat
sebuah ikon universal yang mudah dikenali dengan menyertakan ikon robot secara
spesifik dalam desain akhir. Setelah sejumlah perkembangan desain yang
didasarkan pada tema-tema fiksi ilmiah dan film luar angkasa, tim
akhirnya mendapat inspirasi dari simbol manusia yang terdapat di pintu toilet,
dan memodifikasi bentuknya menjadi bentuk robot. Karena Android adalah
perangkat lunak sumber terbuka,
disepakati bahwa logo tersebut juga harus terbuka, dan sejak diluncurkan, logo
hijau tersebut telah didesain ulang kembali dalam berbagai variasi yang tak
terhitung jumlahnya.[76]
Jadwal pembaruan
Lihat pula: Sejarah versi Android
Google menyediakan pembaruan utama bagi versi Android, dengan
jangka waktu setiap enam sampai sembilan bulan. Sebagian besar perangkat mampu
menerima pembaruan melalui udara (OTA).[77] Pembaruan utama terbaru adalah Android 6.0 Marshmallow.[78]
Dibandingkan dengan sistem operasi seluler saingan utamanya,
yaitu iOS, pembaruan Android biasanya lebih lambat
diterima oleh perangkat penggunanya. Untuk perangkat selain merek Nexus,
pembaruan biasanya baru bisa diterima dalam waktu berbulan-bulan setelah
dirilisnya versi resmi.[79] Hal ini disebabkan oleh banyaknya variasi perangkat keras Android, sehingga setiap
pembaruan harus disesuaikan secara khusus, misalnya: kode sumber resmi Google
hanya berjalan pada perangkat Nexus. Porting Android pada perangkat keras
tertentu yang dilakukan oleh produsen telepon seluler membutuhkan waktu dan
proses, para produsen ini umumnya mengutamakan perangkat terbaru mereka untuk
menerima pembaruan, dan mengenyampingkan perangkat lama.[79] Oleh sebab itu, telepon pintar lama sering kali tidak
diperbarui jika produsen memutuskan bahwa itu hanya menghabiskan waktu,
meskipun sebenarnya perangkat tersebut mampu menerima pembaruan. Masalah ini
diperparah ketika produsen menyesuaikan Android dengan antarmuka dan aplikasi
ciptaan mereka, yang mana ini harus diterapkan kembali untuk setiap perilisan
terbaru. Penundaan lainnya juga bisa disebabkan oleh operator nirkabel; setelah
menerima pembaruan dari produsen ponsel, operator akan menyesuaikannya dengan
kebutuhan mereka, misalnya melakukan pengujian ekstensif terhadap jaringan
sebelum mengirim pembaruan kepada pengguna.[79]
Kurangnya dukungan pasca-penjualan dari produsen ponsel dan
operator telah menimbulkan kritikan dari para konsumen dan media teknologi.[80][81] Beberapa pengkritik menyatakan bahwa industri memiliki
motif keuangan untuk tidak memperbarui perangkat mereka, seperti tidak adanya
pembaruan bagi perangkat lama dan memperbarui perangkat yang baru dengan tujuan
meningkatkan penjualan,[82] sikap yang mereka sebut "menghina".[81] The Guardian melaporkan
bahwa metode pembaruan yang rumit terjadi karena produsen ponsel dan
operator-lah yang telah merancangnya seperti itu.[81] Pada 2011, Google, yang bekerja sama dengan sejumlah
perusahaan industri, membentuk "Android Update Alliance", dengan
janji bahwa mereka akan memberikan pembaruan secara tepat waktu bagi setiap
perangkat dalam jangka 18 bulan setelah dirilisnya versi resmi.[83] Sejak didirikan hingga tahun 2013, organisasi ini tak
pernah disebut-sebut lagi.[79] Google kemudian mulai memperbarui aplikasinya,
termasuk Google Maps dan Google Play Music, sebagai aplikasi independen
yang terpisah dari Android, dan juga memperkenalkan komponen tingkat-sistem
yang menyediakan API bagi aplikasi Google, yang terpasang
otomatis dan diperbarui secara langsung oleh Google melalui Google Play, serta mendukung hampir semua
perangkat Android dengan versi di atas 2.2.[84]
Kernel Linux
Diagram arsitektur
Hingga November 2013, Android menggunakan kernel yang berbasis kernel Linux versi 3.x (versi 2.6 pada
Android 4.0 Ice Cream Sandwich dan pendahulunya). Peranti tengah, perpustakaan perangkat lunak,
dan API ditulis
dalam C,
dan perangkat lunak
aplikasi berjalan pada kerangka kerja
aplikasi, termasuk perpustakan kompatibel-Java yang berbasis Apache Harmony. Android menggunakan mesin virtual
Dalvik dengan kompilasi tepat waktu untuk
menjalankan 'dex-code' Dalvik (Dalvik Executable), biasanya diterjemahkan
dari bytecode Java.[85]
Arsitektur kernel Linux pada Android telah diubah oleh Google,
berbeda dengan siklus pengembangan kernel Linux biasa.[86] Secara standar, Android tidak memiliki X Window System asli ataupun dukungan set
lengkap dari perpustakaan GNU standar. Oleh sebab
itu, sulit untuk memporting perpustakaan
atau aplikasi Linux pada Android.[87] Dukungan untuk aplikasi simpel C dan SDL bisa dilakukan dengan cara
menginjeksi shim Java
dan menggunakan JNI,[88] misalnya pada port Jagged
Alliance 2 untuk Android.[89]
Salah satu fitur yang coba disumbangkan oleh Google untuk kernel
Linux adalah fitur manajemen daya yang disebut "wakelocks", tetapi
fitur ini ditolak oleh pengembang kernel utama karena mereka merasa bahwa
Google tidak menunjukkan niatnya untuk mengembangkan kodenya sendiri.[90][91][92] Pada bulan April 2010, Google mengumumkan bahwa mereka
akan menyewa dua karyawan untuk mengembangkan komunitas kernel Linux.[93] Namun, Greg Kroah-Hartman,
pengelola kernel Linux versi stabil, menyatakan pada bulan Desember 2010; ia
khawatir bahwa Google tak lagi berusaha untuk mengubah kode utama Linux.[91] Beberapa pengembang Android di Google mengisyaratkan bahwa
"tim Android sudah mulai jenuh dengan proses ini", karena mereka
hanyalah tim kecil dan dipaksa untuk melakukan pekerjaan yang mendesak demi
keberlangsungan Android.[94]
Pada Agustus 2011, Linus Torvalds menyatakan: "akhirnya
Android dan Linux akan kembali pada kernel umum, tetapi mungkin untuk empat
atau lima tahun kedepan".[95] Pada Desember 2011, Greg Kroah-Hartman mengumumkan
dimulainya Android Mainlining Project, yang bertujuan untuk mengembalikan
beberapa pemacu, patch,
dan fitur Android pada kernel Linux, yang dimulai dengan Linux 3.3.[96] Setelah upaya sebelumnya gagal, Linux akhirnya menyertakan
fitur wakelocks dan autosleep pada kernel 3.5. Antarmukanya masih sama, tetapi
implementasi Linux yang baru memiliki dua mode suspend (penangguhan)
berbeda: penangguhan ke penyimpanan (penangguhan tradisional yang digunakan
oleh Android), dan penangguhan ke cakram (hibernasi, serupa dengan fitur yang
ada pada desktop).[97] Penyertaan fitur baru ini akan rampung pada Kernel 3.8,
Google telah membuka repositori kode publik yang berisi karya eksperimental
mereka untuk mendesain ulang Android dengan Kernel 3.8.[98]
Memori kilat (flash
storage) pada perangkat Android dibagi menjadi beberapa partisi, misalnya
"/system" untuk sistem operasi, dan "/data" untuk
pemasangan aplikasi dan data pengguna.[99] Berbeda dengan distribusi desktop Linux, pemilik perangkat
Android tidak diberikan akses root pada
sistem operasi, dan partisi sensitif seperti /system bersifat hanya-baca.
Namun, akses root dapat diperoleh dengan cara memanfaatkan kelemahan keamanan
pada Android, cara ini sering digunakan oleh komunitas sumber terbuka untuk
meningkatkan kinerja perangkat mereka,[100] tetapi bisa juga dimanfaatkan oleh pihak yang tidak
bertanggungjawab untuk menyebarkan virus dan perangkat perusak.[101]
Terkait dengan masalah apakah Android bisa digolongkan ke dalam
distribusi Linux masih diperdebatkan secara luas.[102] Linux Foundation dan Chris DiBona,[103] kepala sumber terbuka Google, mendukung hal ini. Sedangkan
yang lainnya, seperti teknisi Google Patrick Brady, menentangnya, ia beralasan
bahwa Android kurang mendukung sebagian besar perkakas GNU,
termasuk glibc.[104]
Komunitas sumber terbuka
Android memiliki komunitas pengembang dan penggemar aktif yang
menggunakan kode sumber Android untuk mengembangkan dan mendistribusikan versi
modifikasi Android buatan mereka.[105] Komunitas pengembang ini sering kali memberikan pembaruan
dan fitur-fitur baru bagi perangkat lebih cepat jika dibandingkan dengan
produsen/operator, meskipun pembaruan tersebut tidak menjalani pengujian
ekstensif atau tidak memiliki jaminan kualitas.[22] Mereka berupaya untuk terus memberikan dukungan bagi
perangkat-perangkat lama yang tak lagi menerima pembaruan resmi, ataupun
memodifikasi perangkat Android agar bisa berjalan dengan menggunakan sistem
operasi lain, misalnya HP TouchPad.
Komunitas ini sering kali merilis pembaruan bagi perangkat pra-rooted, dan berisi modifikasi yang tidak
cocok bagi pengguna non-teknis, misalnya kemampuan untuk overclock atau over/undervolt prosesor
perangkat.[106] CyanogenMod adalah perangkat tegar (firmware)
komunitas yang paling banyak digunakan, dan menjadi dasar bagi sejumlah firmware lainnya.[107]
Secara historis, produsen perangkat dan operator seluler
biasanya tidak mendukung pengembangan firmware oleh pihak
ketiga. Produsen khawatir bahwa akan muncul fungsi yang tidak sesuai jika
perangkat menggunakan perangkat lunak yang tidak resmi,
sehingga akan menyebabkan munculnya biaya tambahan.[108] Selain itu, firmware modifikasi seperti
CyanogenMod kadang-kadang menawarkan fitur yang membuat operator harus
mengeluarkan biaya premium, misalnya tethering. Akibatnya, kendala teknis seperti
terkuncinya pengebutan (bootloader)
dan terbatasnya akses root umumnya bisa ditemui di kebanyakan
perangkat Android. Namun, perangkat lunak buatan komunitas pengembang semakin
populer, dan setelah Kongres Pustakawan Amerika Serikat mengizinkan "jailbreaking"
perangkat seluler,[109] produsen ponsel dan operator mulai memperlunak sikap
mereka terhadap pengembang pihak ketiga. Beberapa produsen ponsel,
termasuk HTC,[110] Motorola,[111] Samsung[112][113] dan Sony,[114] mulai memberikan dukungan dan mendorong pengembangan
perangkat lunak pihak ketiga. Sebagai hasilnya, kendala pembatasan perangkat keras untuk
memasang perangkat tegar tidak
resmi mulai berkurang secara bertahap setelah meningkatnya jumlah perangkat
yang memiliki kemampuan untuk membuka bootloader, sama dengan seri
ponsel Nexus, meskipun pengguna harus kehilangan garansi perangkat mereka jika
melakukannya.[108] Akan tetapi, meskipun produsen ponsel telah menyetujui
pengembangan perangkat lunak pihak ketiga, beberapa operator seluler di Amerika Serikat masih mewajibkan ponsel
penggunanya untuk "dikunci".[115]
Kemampuan untuk membuka dan meretas sistem pada telepon pintar
dan tablet terus menjadi sumber perdebatan antar komunitas pengembang dan
industri; komunitas beralasan bahwa pengembangan tidak resmi dilakukan karena
industri gagal memberikan pembaruan yang tepat waktu bagi pengguna, atau untuk
tetap melanjutkan dukungan versi terbaru bagi perangkat lama mereka.[115]
Keamanan dan privasi
Izin aplikasi di Play Store
Lihat pula: Keamanan
seluler
Aplikasi Android berjalan di sandbox,
sebuah area terisolasi yang tidak memiliki akses pada sistem, kecuali izin
akses yang secara eksplisit diberikan oleh pengguna ketika memasang aplikasi.
Sebelum memasang aplikasi, Play Store akan menampilkan semua izin
yang diperlukan, misalnya: sebuah permainan perlu mengaktifkan getaran atau
menyimpan data pada Kartu SD,
tetapi tidak perlu izin untuk membaca SMS atau mengakses buku telepon. Setelah
meninjau izin tersebut, pengguna dapat memilih untuk menerima atau menolaknya,
dan bisa memasang aplikasi hanya jika mereka menerimanya.[116]
Sistem sandbox dan perizinan pada Android bisa
mengurangi dampak kerentanan terhadap bug pada
aplikasi, tetapi ketidaktahuan pengembang dan terbatasnya dokumentasi telah
menghasilkan aplikasi yang secara rutin meminta izin yang tidak perlu, sehingga
mengurangi efektivitasnya.[117] Beberapa perusahaan keamanan perangkat lunak seperti Avast, Lookout Mobile
Security,[118] AVG Technologies,[119] dan McAfee,[120] telah merilis perangkat lunak antivirus ciptaan mereka
untuk perangkat Android. Perangkat lunak ini sebenarnya tidak bekerja secara
efektif karena sandbox juga bekerja pada aplikasi tersebut,
sehingga membatasi kemampuannya untuk memindai sistem secara lebih mendalam.[121]
Hasil penelitian perusahaan keamanan Trend Micro menunjukkan bahwa
penyalahgunaan layanan premium adalah tipe perangkat perusak (malware) paling
umum yang menyerang Android; pesan teks akan dikirim dari ponsel yang telah
terinfeksi ke nomor telepon premium tanpa persetujuan atau sepengetahuan
pengguna.[122] Perangkat perusak lainnya akan menampilkan iklan yang
tidak diinginkan pada perangkat, atau mengirim informasi pribadi pada pihak
ketiga yang tak berwenang.[122] Ancaman keamanan pada Android dilaporkan tumbuh secara
bertahap, tetapi teknisi di Google menyatakan bahwa perangkat perusak dan
ancaman virus pada Android hanya dibesar-besarkan oleh perusahaan antivirus
untuk alasan komersial,[123][124] dan menuduh industri antivirus memanfaatkan situasi
tersebut untuk menjual produknya kepada pengguna.[123] Google menegaskan bahwa keberadaan perangkat perusak
berbahaya pada Android sebenarnya sangat jarang,[124] dan survei yang dilakukan oleh F-Secure menunjukkan bahwa
hanya 0,5% dari perangkat perusak Android yang berasal dari Google Play.[125]
Google baru-baru ini menggunakan pemindai perangkat
perusak Google Bouncer untuk
mengawasi dan memindai aplikasi di Google Play.[126] Tindakan ini bertujuan untuk menandai aplikasi yang
mencurigakan dan memperingatkan pengguna atas potensi masalah pada aplikasi
sebelum mereka mengunduhnya.[127] Android versi 4.2 Jelly Bean dirilis pada
tahun 2012 dengan fitur keamanan yang ditingkatkan, termasuk pemindai perangkat
perusak yang disertakan dalam sistem; pemindai ini tidak hanya memeriksa
aplikasi yang dipasang dari Google Play, tetapi juga bisa memindai aplikasi
yang diunduh dari situs-situs pihak ketiga. Sistem akan memberikan peringatan
yang memberitahukan pengguna ketika aplikasi mencoba mengirim pesan teks
premium, dan memblokir pesan tersebut, kecuali jika pengguna mengizinkannya.[128]
Telepon pintar Android memiliki kemampuan untuk melaporkan
lokasi titik akses Wi-Fi, terutama jika
pengguna sedang bepergian, untuk menciptakan basis data yang berisi lokasi
fisik dari ratusan juta titik akses tersebut. Basis data ini membentuk peta
elektronik yang bisa memosisikan lokasi telepon pintar. Hal ini memungkinkan
pengguna untuk menjalankan aplikasi seperti Foursquare, Google Latitude, Facebook Places, dan untuk mengirimkan iklan
berbasis lokasi.[129] Beberapa perangkat lunak pemantau pihak ketiga juga bisa
mendeteksi saat informasi pribadi dikirim dari aplikasi ke server jarak jauh.[130][131] Sifat sumber terbuka Android memungkinkan perusahaan
keamanan untuk menyesuaikan perangkat dengan penggunaan yang sangat aman.
Misalnya, Samsung bekerja sama dengan General Dynamics melalui proyek
"Knox" Open Kernel Labs.[132][133]
Pada September 2013, terungkap bahwa badan intelijen Amerika
Serikat dan Britania; NSA dan Government
Communications Headquarters (GCHQ), memiliki akses terhadap
data pengguna pada perangkat iPhone, Blackberry, dan Android. Mereka bisa membaca
hampir keseluruhan informasi pada telepon pintar, termasuk SMS,
lokasi, surel, dan catatan.[134]
Lisensi
Kode sumber untuk
Android tersedia di bawah lisensi perangkat
lunak sumber terbuka dan bebas. Google menerbitkan sebagian besar
kode (termasuk kode jaringan dan telepon) di bawah Lisensi Apache versi 2.0.[135][136][137] Sisanya, perubahan kernel Linux berada di bawah GNU General
Public License versi 2. Open Handset Alliance mengembangkan
perubahan kernel Linux dengan kode sumber terbuka yang dipubikasikan setiap
saat. Selebihnya, Android dikembangkan secara pribadi oleh Google, dengan kode sumber yang diterbitkan
untuk umum ketika versi baru diluncurkan. Biasanya Google bekerja sama dengan
produsen perangkat keras untuk mengembangkan sebuah perangkat
"andalan" (misalnya seri Google Nexus) yang disertai dengan versi baru
Android, kemudian menerbitkan kode sumbernya setelah perangkat tersebut
dirilis.[138]
Pada awal 2011, Google memilih untuk menahan sementara kode
sumber Android untuk tablet yang dirilis dengan versi 3.0 Honeycomb.
Menurut Andy Rubin dalam
sebuah posting blog resmi Android, alasannya karena Honeycomb dirilis
untuk berjalan pada produk Motorola Xoom,[139] dan Google tidak ingin pihak ketiga "memperburuk
pengalaman pengguna" dengan mencoba mengoperasikan versi Android yang
ditujukan untuk tablet pada telepon pintar.[140] Kode sumber tersebut akhirnya dipublikasikan pada bulan
November 2011 dengan dirilisnya Android 4.0 Ice Cream Sandwich.[141]
Meskipun bersifat terbuka, produsen perangkat tidak bisa
menggunakan merek dagang Android
Google seenaknya, kecuali Google menyatakan bahwa perangkat tersebut sesuai
dengan Compatibility Definition Document (CDD) mereka. Perangkat juga harus
memenuhi lisensi persyaratan aplikasi sumber tertutup Google, termasuk Google Play.[142] Richard Stallman dan Free Software
Foundation telah mengkritik mengenai rumitnya permasalahan
merek Android ini, dan merekomendasikan sistem operasi alternatif seperti Replicant.[143][144] Mereka berpendapat bahwa pemacu peranti dan perangkat tegar yang diperlukan untuk
mengoperasikan Android bersifat eksklusif, dan Google Play juga menawarkan
perangkat lunak berbayar.
Penerimaan
Eric Schmidt, Andy Rubin, and Hugo Barra pada konferensi
pers peluncuran tablet Google Nexus 7.
Android disambut dengan hangat ketika diresmikan pada tahun
2007. Meskipun para analis terkesan dengan perusahaan teknologi ternama yang
bermitra dengan Google untuk membentuk Open Handset Alliance, masih diragukan
apakah para produsen ponsel akan bersedia mengganti sistem operasinya dengan
Android.[145] Gagasan mengenai sumber terbuka dan platform
pengembangan berbasis Linux telah menarik minat para pakar
teknologi,[146] tetapi juga muncul kekhawatiran mengenai persaingan ketat
yang akan dihadapi Android dengan pemain mapan di pasar telepon pintar
seperti Nokia dan Microsoft.[147] Nokia menanggapinya dengan menyatakan: "kami tidak
melihat ini sebagai ancaman,"[148] sementara salah satu anggota tim Windows Mobile Microsoft menyatakan:
"Saya tidak mengerti, dampak apa yang akan mereka hasilkan."[148]
Android dengan cepat tumbuh menjadi sistem operasi telepon pintar yang paling
banyak digunakan,[21] dan menjadi "salah satu sistem operasi seluler
tercepat yang pernah ada."[149] Para peninjau memuji sifat sumber terbuka Android sebagai
salah satu kekuatan yang menentukan keberhasilannya, memungkinkan
perusahaan-perusahaan seperti Amazon (Kindle Fire), Barnes & Noble (Nook), Ouya, Baidu,
dan yang lainnya, untuk berbondong-bondong merilis perangkat lunak dan
perangkat keras yang bisa beroperasi pada versi Android. Alhasil, situs
teknologi Ars Technica menyebut
Android sebagai "sistem operasi standar untuk meluncurkan perangkat keras
baru" bagi perusahaan tanpa harus memiliki platform seluler sendiri.[21] Sifat Android yang terbuka dan fleksibel juga dinikmati
oleh pengguna: Android memungkinkan penggunanya untuk mengkustomisasi
perangkatnya secara ekstensif, dan aplikasi juga tersedia bebas di toko
aplikasi non-Google dan di situs-situs pihak ketiga. Faktor ini menjadi salah
satu keunggulan yang dimiliki oleh ponsel Android jika dibandingkan dengan
ponsel lainnya.[21][150]
Meskipun Android sangat populer, dengan tingkat aktivasi
perangkat tiga kali lipat lebih tinggi dari iOS,
ada laporan yang menyatakan bahwa Google belum mampu memanfaatkan produk mereka
secara maksimal, dan layanan web pada akhirnya mengubah Android menjadi
penghasil uang, seperti yang telah diperkirakan oleh para analis sebelumnya.[151] The Verge berpendapat
bahwa Google telah kehilangan kontrol terhadap Android karena luasnya
kustomisasi yang bisa dilakukan oleh pengembang dan pengguna, juga karena
tingginya proliferasi aplikasi dan layanan non-Google – misalnya
Amazon Kindle Fire mengarahkan
pengguna untuk mengunjungi Amazon app store, yang bersaing langsung dengan
Google Play. SVP Google, Andy Rubin, yang
posisinya sebagai kepala divisi Android digantikan pada bulan Maret 2013,
disalahkan karena gagal dalam membangun kemitraan yang sehat dengan para
produsen ponsel. Pemimpin utama produk-produk Android di pasar global
adalah Samsung; salah satu produknya, Galaxy, berperan penting dalam pengenalan merek
Android sejak tahun 2011.[152][153] Sedangkan produsen ponsel Android lainnya seperti LG, HTC,
dan Motorola Mobility milik
Google, telah berjuang keras untuk memasarkan produknya sejak tahun 2011.
Ironisnya, di saat Google tidak mendapatkan apapun dari hasil penjualan produk
Android secara langsung, Microsoft dan Apple malah berhasil memenangkan gugatan
atas pembayaran royalti paten dari produsen
perangkat Android.[152]
Android juga dikatakan sangat "terfragmentasi",[154] yaitu suatu kondisi saat berbagai perangkat Android, baik
dari segi variasi perangkat keras dan perbedaan perangkat lunak yang berjalan,
ditugaskan untuk mengembangkan aplikasi agar bisa berjalan secara konsisten,
lebih rumit jika dibandingkan dengan iOS, yang aplikasinya kurang bervariasi.[155] Sebagai contoh, menurut data OpenSignal pada Juli 2013, terdapat
11.868 model perangkat Android dengan berbagai ukuran layar dan versi Android,
sedangkan sebagian besar pengguna iOS menggunakan perangkat iPhone dengan versi
terbaru.[155][156]
Tablet
Tablet Nexus 9
generasi pertama
Meskipun sukses di telepon pintar, pengadopsian Android
untuk komputer tablet awalnya
berjalan lambat.[157] Salah satu penyebab utamanya adalah adanya situasi yang
dikenal dengan "ayam atau telur",
yaitu kondisi ketika konsumen ragu-ragu untuk membeli tablet Android karena
kurangnya aplikasi tablet yang berkualitas tinggi, sementara di sisi lain, para
pengembang juga ragu-ragu untuk menghabiskan waktu dan sumber daya mereka untuk
mengembangkan aplikasi tablet sampai tersedianya pasar yang signifikan bagi produk
tersebut.[158][159] Konten dan "ekosistem" aplikasi terbukti lebih
penting jika dibandingkan dengan spesifikasi perangkat keras setelah
dimulainya penjualan tablet. Karena kurangnya aplikasi untuk tablet pada 2011,
tablet Android awalnya terpaksa harus memasang aplikasi yang diperuntukkan bagi
telepon pintar, sehingga ukuran layarnya tidak cocok dengan layar tablet yang
besar. Selain itu, lambannya pertumbuhan tablet Android juga disebabkan oleh
dominasi iPad Apple yang memiliki banyak
aplikasi iOS yang kompatibel dengan tablet.[159][160]
Pertumbuhan aplikasi tablet Android perlahan-lahan mulai
meningkat. Pada saat yang bersamaan, sejumlah besar tablet yang menggunakan
sistem operasi lain seperti HP TouchPad dan BlackBerry PlayBook juga
dirilis ke pasaran untuk memanfaatkan keberhasilan iPad.[159] InfoWorld menjuluki bisnis ini dengan sebutan
"bisnis Frankenphone"; suatu peluang investasi rendah jangka pendek
yang memaksakan penggunaan OS telepon pintar Android yang dioptimalkan (sebelum
Android 3.0 Honeycomb untuk tablet dirilis) pada perangkat
dengan mengabaikan antarmuka pengguna. Pendekatan ini gagal meraih traksi pasar
dengan konsumen serta memperburuk reputasi tablet Android.[161][162] Terlebih lagi, beberapa tablet Android seperti Motorola Xoom dibanderol dengan harga
yang sama, atau lebih mahal dari iPad, yang semakin memperburuk penjualan.
Pengecualian ada pada Kindle Fire Amazon, yang dijual dengan harga lebih murah
dan kemampuan untuk mengakses konten dan "ekosistem" aplikasi Amazon.[159][163]
Hal ini mulai berubah pada tahun 2012 dengan dirilisnya Nexus 7, dan adanya dorongan dari Google
kepada para pengembang untuk menciptakan aplikasi tablet yang lebih baik.[164] Pangsa pasar tablet Android akhirnya berhasil menyalip
iPad pada pertengahan 2012.[165]
Pangsa pasar
Perusahaan riset Canalys memperkirakan bahwa pada kuartal kedua
2009, Android memiliki pangsa penjualan telepon pintar sebesar 2,8% di seluruh
dunia.[166] Pada kuartal keempat 2010, jumlah ini melonjak menjadi
33%, menjadi platform telepon
pintar terlaris di dunia.[19] Hingga kuartal ketiga 2011, Gartner memperkirakan lebih dari setengah
(52,5%) pasar telepon pintar global dikuasai oleh Android.[167] Menurut IDC, pada kuartal ketiga 2012, Android menguasai
75% pangsa pasar telepon pintar global.[168]
Pada bulan Juli 2011, Google mengungkapkan bahwa terdapat
550.000 perangkat Android baru yang diaktifkan setiap harinya,[169] meningkat dari 400.000 per hari pada bulan Mei,[170] dan secara total, lebih dari 100 juta perangkat Android
telah diaktifkan di seluruh dunia,[171] dengan pertumbuhan 4,4% per minggu.[169] Pada bulan September 2012, 500 juta perangkat Android
telah diaktifkan, dengan 1,3 juta aktivasi per hari.[172][173] Pada Mei 2013, di Google I/O, Sundar Pichai mengumumkan bahwa
total perangkat Android yang telah diaktifkan berjumlah 900 juta.[174]
Pangsa pasar Android bervariasi menurut lokasi. Pada bulan Juli
2012, pangsa pasar Android di Amerika Serikat adalah 52%,[175] dan meningkat hingga 90 % di RRT.[176] Selama kuartal ketiga 2012, pangsa pasar telepon pintar
Android di seluruh dunia adalah 75%,[168] dengan total perangkat yang diaktifkan berjumlah 750 juta
dan 1,5 juta aktivasi per hari.[173]
Pada bulan Maret 2013, pangsa Android di pasar telepon pintar
global dipimpin oleh produk-produk Samsung, yakni sebesar 64%. Perusahaan riset
pasar, Kantar, melaporkan bahwa platform besutan Google menyumbang lebih dari
70% dari seluruh penjualan perangkat telepon pintar di RRT selama periode ini.
Masih pada periode yang sama, tingkat loyalitas terhadap penggunaan produk-produk
Samsung di Inggris (59%) adalah yang tertinggi kedua
setelah Apple (79%).[23]
Hingga November 2013, pangsa pasar Android dikabarkan telah
mencapai 80%. Dari 261,1 juta telepon pintar yang terjual pada bulan Agustus,
September, dan Oktober 2013, sekitar 211 juta di antaranya adalah perangkat
Android.[177]
Penggunaan platform
|
|
Artikel ini
memerlukan pemutakhiran informasi. Harap perbarui artikel
dengan menambahkan informasi terbaru yang tersedia. |
Nougat (0.04%)
Marshmallow (18.7%)
Lollipop (35.0%)
KitKat (27.7%)
Jelly Bean (15.6%)
Ice Cream Sandwich (1.4%)
Gingerbread (1.5%)
Froyo (0.1%)
Tabel di bawah ini menampilkan data mengenai persentase jumlah
perangkat Android yang mengakses Google Play baru-baru ini, dan
menjalankan platform Android
versi tertentu hingga tanggal 9 September 2014.
Android 4.1/4.2/4.3 Jelly Bean adalah versi Android yang
paling banyak digunakan, yakni sekitar 53,7% dari keseluruhan perangkat Android
di seluruh dunia.[178]
Tampilan Android 1.5 Cupcake di HTC Hero dan
Android 4.2 Jelly Bean di Samsung Galaxy S4.
|
Versi |
Nama kode |
Tanggal rilis |
Level |
Distribusi |
|
8 September 2020 |
30 |
|||
|
3 September 2019 |
29 |
|||
|
6 Agustus 2018 |
28 |
|||
|
21 Agustus 2017 |
26 |
|||
|
22 Agustus 2016 |
24 |
Kurang dari 0.1% |
||
|
19 Agustus 2015 |
23 |
|||
|
9 Maret 2015 |
22 |
|||
|
15 Oktober 2014 |
21 |
|||
|
31 Oktober 2013[180] |
19 |
24,5% |
||
|
24 Juli 2013 |
18 |
8% |
||
|
13 November 2012 |
17 |
20,7% |
||
|
9 Juli 2012 |
16 |
25,1% |
||
|
16 Desember 2011 |
15 |
9,6% |
||
|
15 Juli 2011 |
13 |
|||
|
10 Mei 2011 |
12 |
|||
|
9 Februari 2011 |
10 |
11,7% |
||
|
6 Desember 2010 |
9 |
|||
|
20 Mei 2010 |
8 |
0,7% |
||
|
26 Oktober 2009 |
7 |
|||
|
15 September 2009 |
4 |
|||
|
30 April 2009 |
3 |
Pembajakan aplikasi
Ada beberapa kekhawatiran mengenai mudahnya aplikasi berbayar
Android untuk dibajak.[181] Pada bulan Mei 2012, Eurogamer, pengembang Football Manager, menyatakan bahwa rasio
pemain bajakan vs pemain asli adalah 9:1 pada permainan buatan mereka.[182] Namun, tidak semua pengembang mempermasalahkan tingkat
pembajakan ini; pada Juli 2012, pengembang permainan Wind-up Knight
mengungkapkan bahwa tingkat pembajakan pada permainan mereka hanya 12%, dan
sebagian besarnya berasal dari Cina, negara yang pengguna Androidnya tidak bisa
membeli aplikasi dari Google Play.[183]
Pada 2010, Google merilis sebuah alat yang berfungsi memvalidasi
pembelian resmi untuk digunakan dalam aplikasi, tetapi pengembang mengeluh
bahwa hal itu tidak cukup efisien. Google menjawab bahwa alat tersebut
dimaksudkan sebagai kerangka sampel bagi para pengembang untuk memodifikasi dan
mengembangkannya sesuai dengan kebutuhan mereka, bukan sebagai solusi untuk
mengakhiri pembajakan.[184] Pada tahun 2012, Google merilis sebuah fitur dalam Android
4.1 yang mengenskripsikan aplikasi berbayar sehingga aplikasi tersebut hanya
bisa berjalan pada perangkat tempat mereka dibeli, kemudian fitur ini
dinonaktifkan untuk sementara karena masalah teknis.[185]
Masalah hukum
Informasi lebih
lanjut: Oracle
v. Google, Perang telepon pintar dan Patent
troll
Baik Android maupun produsen ponsel Android telah terlibat dalam
berbagai kasus hukum paten. Pada tanggal 12
Agustus 2010, Oracle menggugat
Google atas tuduhan pelanggaran hak cipta dan paten yang berhubungan dengan
bahasa pemrograman Java.[186] Oracle awalnya menuntut ganti rugi sebesar $6,1 miliar.[187] Namun, tuntutan ini ditolak oleh pengadilan federal
Amerika Serikat yang meminta Oracle untuk merevisi gugatannya.[188] Sebagai tanggapan, Google mengajukan beberapa pembelaan,
mengklaim bahwa Android tidak melanggar paten atau hak cipta Oracle, bahwa paten Oracle
tidak valid, dan beberapa pembelaan lainnya. Pihak Oracle menyatakan bahwa
Android berbasis pada Apache Harmony, implementasi clean room perpustakaan kelas Java, dan secara
independen mengembangkan mesin virtual yang disebut Dalvik.[189] Pada bulan Mei 2012, juri dalam kasus ini menemukan bahwa
Google tidak melanggar paten Oracle, dan hakim memutuskan bahwa struktur API
Java yang digunakan oleh Google tidak memiliki hak cipta.[190][191]
Selain tuntutan secara langsung terhadap Google, berbagai "perang proksi" juga dilancarkan terhadap
Android secara tidak langsung dengan menargetkan produsen perangkat Android,
dengan tujuan untuk memperkecil peluang produsen tersebut mengadopsi platform
Android dan meningkatkan biaya peluncuran produk Android ke pasaran.[192] Apple dan Microsoft menggugat beberapa produsen
perangkat Android terkait masalah pelanggaran paten; tuntutan Apple yang
berkepanjangan terhadap Samsung menjadi kasus yang sangat terpublikasi. Pada
Oktober 2011, Microsoft mengungkapkan bahwa mereka telah menandatangani perjanjian
lisensi paten dengan sepuluh produsen ponsel yang produk-produknya menguasai
55% pasar global perangkat Android,[193] termasuk Samsung dan HTC.[194] Kasus pelanggaran paten antara Samsung dan Microsoft
berakhir dengan kesepakatan bahwa Samsung akan mengalokasikan lebih banyak
sumber daya untuk mengembangkan dan memasarkan ponsel dengan sistem
operasi Windows Phone besutan
Microsoft.[192]
Google secara terbuka menyatakan kefrustrasiannya dalam
menghadapi gugatan pelanggaran paten di Amerika Serikat, menuduh bahwa Apple,
Oracle, dan Microsoft sedang berupaya untuk melemahkan kedigjayaan Android
melalui litigasi paten, alih-alih berinovasi dan bersaing dengan cara
menciptakan produk dan layanan yang lebih baik.[195] Pada 2011-2012, Google membeli Motorola Mobility seharga $12,5 miliar.
Upaya ini dipandang sebagai langkah pertahanan Google untuk melindungi Android,
karena Motorola Mobility memegang lebih dari 17.000 hak paten.[196] Pada Desember 2011, Google juga membeli lebih dari seribu
paten dari IBM.[197]
Pada 2013, Fairsearch, sebuah organisasi yang didukung oleh
Microsoft, Oracle, dan lainnya, mengajukan keluhan terhadap Android pada Komisi Eropa, menyatakan bahwa distribusi
perangkat Android yang bebas biaya merupakan bentuk persaingan harga
anti-kompetitif. Free
Software Foundation Europe, yang didonori Google, membantah tuduhan
Fairsearch.[198]
Penggunaan di perangkat lain
Sony SmartWatch: contoh perangkat pendamping
Android.
Sifat Android yang terbuka dan bisa dikustomisasi menyebabkan
sistem operasi ini juga digunakan pada perangkat elektronik lainnya, termasuk
laptop dan netbook, smartbook,[199] Smart TV (Google TV), dan kamera (Nikon
Coolpix S800c dan Galaxy Camera).[200][201] Selain itu, sistem operasi Android juga mengembangkan
aplikasinya pada kacamata pintar (Google Glass), jam tangan,[202] penyuara kuping,[203] CD mobil dan pemutar DVD,[204] cermin,[205] pemutar media
portabel,[206] jaringan tetap,[207] dan telepon VoIP.[208] Ouya, sebuah konsol permainan video yang menggunakan
sistem operasi Android, menjadi salah satu produk Kickstarter yang paling sukses, didanai
sebesar $8,5 juta untuk pengembangannya, yang kemudian diikuti oleh konsol
permainan video berbasis Android lainnya seperti Project
Shield besutan Nvidia.[209][210]
Pada tahun 2011, Google memperkenalkan "Android@Home",
teknologi otomatis baru yang memanfaatkan Android untuk mengontrol beberapa
alat-alat rumah tangga seperti kontak lampu, soket listrik, dan termostat.[211] Mengontrol lampu dikatakan dapat dikendalikan dari ponsel
atau tablet Android. Pimpinan Android Andy Rubin menegaskan bahwa
"menyalakan dan mematikan lampu bukanlah hal yang baru, Google berpikir
lebih ambisius dan tujuannya adalah untuk menggunakan posisinya sebagai
penyedia jasa awan guna
membawa produk-produk Google ke rumah pelanggan."[212]
Pada bulan Agustus 2011, Parrot meluncurkan sistem stereo mobil
dengan platform Android, yang dikenal dengan Asteroid dan dilengkapi dengan
perintah suara.[213][214] Pada September 2013, Clarion merilis sistem stereo mobil
dengan platform Android yang lebih maju, yang dikenal dengan AX1 dan Mirage,
menggunakan Android 2.3.7 dan 2.2 (Gingerbread) dan dilengkapi dengan navigasi
berbasis GPS, layar 6,5 inci, dan berbagai pilihan
untuk akses data nirkabel.[215][216]
Berbagai perangkat lainnya, meskipun tidak menggunakan Android,
juga dirancang dengan antarmuka yang berfungsi sebagai pendamping atau
pelengkap bagi perangkat Android, misalnya SmartWatch Sony atau Galaxy Gear Samsung.[210]








Komentar
Posting Komentar